Demam Alamat Palsu

“Kesana kemari membawa alamat…”

DUNG! DUNG! suara drum dari speaker mini itu praktis membuat Sutil di tanganku seketika terlempar. Wajahku langsung berubah menjadi Mak Lampir yang masih singset, kenyal dan mulus. Ya… enggak jauh lah sama Ratih Sanggarwati. Buktinya setiap aku jalan, semua orang melihatku, karena…aku pake jilbabnya terbalik !!!.

“Tapi yang kutemui bukan dirinya…”

Arrgghhh… Seketika ingin kulempar semua barang yang ada di dekatku. Penggorengan, Wajan, Panci dan sahabat-sahabatnya. Tapi kalau aku ingat semuanya belum lunas ditambah lagi wajah Tukang Kredit Panci yang masih saudara Ade Rai. Nyaliku ciut.

Kalau lagu itu sudah berkumandang, artinya Penjual Getuk akan lewat. Lagunya milik salah satu penyanyi yang konon happening saat ini. Aku lupa nama penyanyinya, Tang-tang ato Ting-ting, mungkin masih saudaranya Es Tung-tung, yang jelas bukan Si Entong. Jangan heran, gerobak Tukang Penjual Getuk sudah dilengkapi sound system seperti yang tampil di panggung musik MTV. Dengan jarak radius 1 km, aku dapat merasakan getaran Bass yang menggelegar. Suara bass berhasil merasuk jantungnya hingga berdetak kencang, seperti yang kurasakan saat aku jatuh cinta dengan calon suamiku (cuit…cuit…).

Tidak mungkin setiap pagi, dapurku mendadak hancur karena kedatangan Penjual Getuk. Tak mungkin aku melarang Penjual Getuk itu melewati depan rumahku. Mengingat ini bukan kampung milik Nenekku. Yang ada malah aku bakal didemo fans-fans Penjual Getuk yang mayoritas anak-anak itu.”Turunkan Ibu Wuri jadi pejabat kampung”, atau “”Lempar saja rumah Ibu Wuri dengan Getuk”. Wah, kalo spanduk demo yang terakhir aku suka, pasti aku tinggal buka mulut dan menangkap Getuk-Getuk yang bertebaran. Yummy…

Akhirnya aku belajar untuk meredam amarah setiap lagu Alamat Palsu itu menggaung di depan rumah. Aku tumpahkan semua kekesalanku kepada Penjual Getuk dengan memasak. Setiap lagu itu terdengar di telingaku, aku tumpahkan Garam atau Lada sebanyak-banyaknya. Alhasil, bukannya masakanku mendekati masakan Chef ternama, malah suamiku tidak pernah mengunyah terlebih dahulu setiap makan.

“Kok asin banget?”

“Ya sudah, langsung telen aja” jawabku santai.

Glek. Terkadang kalau Penjual Getuk itu datang saat aku sedang menguleg cabai di atas cobek. Seketika aku menekan keras seakan cabai itu adalah lagu yang ingin aku musnahkan. Alhasil, setiap hari aku harus ganti cobek karena pecah. Sebagai manajer keuangan di rumah, rugi bandar dong. Kan lumayan, dutinya bisa buat beli motornya Rossi atau pintu ajaibnya Doraemon. Aku putar otak… Dengan terpaksa aku harus berdamai dengan lagu itu setiap pagi. Aku nikmati saja lagu itu. Anggap saja aku masak dengan bonus live music gratis.

“Sayaaang… yang kuterima alamat palsu…”

Lama-lama enak juga tuh lagu. Joget dulu ya… *sambil tangan kanan pegang Sutil

Suamiku langsung pingsan.

(based on fiction story)

Bagaimana dengan Penjual Getuk di rumahmu???

Getuk = jajanan khas Jawa dari Ubi, biasanya berwarna-warni

Es Tung-tung = es tradisonal, biasanya banyak di sekolah-sekolah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: