Gift From Mr.Kim, Aida MA

Oleh : Wuri Nugraeni

Saya memang bukan salah satu mahasiswi Fisiognomi, atau ilmu filsafat wajah. Bidang pendidikan yang membaca karakter seseorang melalui wajah, bahkan untuk sekedar menilik buku seputar makna wajah pun tiada pernah saya lakukan. Namun, Aida MA. menawarkan tantangan seru untuk memaparkan sosok Mr. Kim Tae Won hanya melalui sketsa dari cover novel remaja terbarunya, “Looking For Mr. Kim.” Apalagi saya belum membaca bukunya, sehingga memaksa otak dan jemari saya bekerja keras membangun imajinasi serta melukiskan semuanya dengan kata-kata.

Analisis menggunakan filsafat wajah memang menjanjikan kita dapat mengenal seseorang tersebut secara lebih mendalam. Penilaian tersebut berdasarkan kemungkinan bentuk tengkorak, tulang pipi, rahang, dan kelima panca indra. Walaupun sosok Mr. Kim tidak tergambar secara jelas di lembar terdepan pada buku, saya akan mencoba mengaitkan pengetahuan seputar wajah dengan desain cover buku tersebut.

Yang saya tangkap dari covernya adalah foto Mr. Kim dari belakang. Tampak Mr. Kim tengah menoleh ke kanan sekitar 45 derajat, sehingga terlihat garis wajahnya dari samping walaupun masih kabur. Menurut saya, wajah Mr. Kim tergolong “Bentuk Wajah Berlian” karena “Wajah berlian memiliki dahi yang sempit, tulang pipi yang menonjol dan berdagu lancip.” (1)

Menurut informasi mengenai wajah berlian, karakter yang keluar adalah hangat dan memiliki kemauan kuat. Selain itu, pemiliknya cenderung menangkup hoki di dunia karirnya. Sayangnya, tipe wajah ini cenderung bersifat egois dan kurang peduli kepada moral.

Saya sempat membaca beberapa review dan sinopsis dari pembaca. Menurut saya, korelasinya adalah sikap Mr. Kim yang terbuka atas kehadiran putri remajanya secara mendadak, cukup menunjukkan karakternya yang hangat. Tidak semua orang mampu membuka tangan ketika anak yang tidak pernah diketahuinya itu tiba-tiba berdiri di hadapannya. Mr. Kim nampaknya tergolong sosok yang cukup mengayomi anak muda. Sebagai seorang lelaki, Mr. Kim memiliki sikap yang mudah menerima kehadiran orang asing, dapat bergaul dengan berbagai kalangan, serta peduli kepada sesamanya. Tidak heran, Mr. Kim memiliki banyak terman, salah satunya ibu dari putrinya yang asli warga Negara Indonesia, yang dahulu pernah menjadi kawan dekat.

Sebaliknya, sisi negatif Mr. Kim yang berwajah berlian adalah kurang ada rasa peduli terhadap moral yang berlaku di lingkungan bangsa Timur. Bagaimana dia melalui masa mudanya sehingga sempat memiliki anak di luar pernikahan sah. Apalagi sampai bersikap acuh hingga membiarkan sang putri berkembang dengan single parent di negeri seberang. Pada dasarnya, Mr. Kim kurang memperhatikan bagaimana nilai-nilai yang tumbuh di lingkungannya. Segala pengetahuan tak tertulis itu gagal tercerap di otaknya.

Mr. Kim yang diceritakan sebagai lelaki Korea, artinya kemungkinan tergolong dalam ras Mongoloid. Karakteristik penduduknya adalah mata sipit, kulit kuning, dan rambut hitam lurus. Setidaknya pengetahuan dari Antropologi ini cukup mempengaruhi pemikiran saya.

Dalam benak saya, telah tercipta bahwa Mr. Kim adalah lelaki berdahi sempit, tulang pipi yang menonjol dan berdagu lancip. Memiliki mata sipit, warna kulitnya kuning, dan rambutnya hitam legam, layaknya warga Korea lainnya. Karakternya humble, tipe pelindung, dan open-minded. Tetapi kurang peduli dengan budaya di sekitarnya, sehingga terkadang pemikirannya dianggap melenceng dari para leluhur.

Apabila ciri-ciri fisik serta pribadi Mr. Kim berdasarkan kedua ilmu di atas (Fisiognomi dan Antropologi), maka saya perlu menambahkan unsur pengetahuan sesuai background pendidikan saya, yaitu Ilmu Komunikasi. Berdasarkan teori semiotika yang menggali seputar tanda, kehadiran simbol bukan ada tanpa makna. Melainkan, “Simbol atau lambang adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjuk sesuatu lainnya, berdasarkan kesepakatan kelompok.”(2)

Baik lambang itu berupa kata, perilaku, atau obyek, segalanya memiliki makna sebagai perwakilan dari pemilik pesan yang ingin menyampaikan. Tidak terkecuali gambar Mr. Kim yang terkesan misterius di cover buku. Tanda hadir sebagai petunjuk bagaimana Mr. Kim memiliki banyak rahasia, seperti dipaparkan dalam novel, yang konon, Mr. Kim memang tidak tertulis secara mendetail juga.

Pilihan warna dalam melukiskan wajah Mr. Kim, juga mengandung alasan tertentu. Salah satunya adalah cerminan Mr. Kim dalam cerita tersebut. Pemilihan warna kuning yang tergolong cerah, memang menarik bagi kalangan remaja, sebagai target pembaca. Namun, alasan pemilihan salah satu warna juga memberi pengaruh dari cerita, termasuk sosok Mr. Kim sebagai model utamanya. Menurut saya, warna kuning cukup mewakili karakter Mr. Kim dengan makna-makna yang terkandung di dalamnya. “Warna kuning. Positif: Optimis, kepercayaan diri, harga diri, extraversion, kekuatan emosional, keramahan, kreativitas. Negatif: Irasionalitas, ketakutan, kerapuhan, emosional depresi, kecemasan, bunuh diri.”(3)

Melalui warna kuning, Mr. Kim tergambarkan sebagai lelaki yang terlihat kokoh dari luar tetapi memiliki kelemahan di balik sikap gagah tersebut. Kebiasaan Mr. Kim yang selalu berfikir positif, memang membuat dia memiliki banyak kawan. Mulai dari anak kecil hingga orang dewasa seusianya. Pola possitive thinking ini acap kali menular ke orang-orang terdekatnya. Tak lebih dari seorang motivator yang menjadi titik kepercayaan banyak orang.

Warna kuning juga menunjukkan kalau Mr. Kim lebih senang mengisi waktunya dengan berdiskusi daripada harus berdiam diri di dalam kamarnya. Andai Mr. Kim tidak tengah bersama temannya, pasti lebih memilih membaca buku mengenai kehidupan. Tentu saja buku-buku yang mengikuti perkembangan jaman masa kini.

Tetapi Mr. Kim bukan lelaki yang memiliki kedekatan dengan keluarganya. Terbukti sedari muda sudah melanggar norma-norma yang berlaku. Bagi Mr. Kim, orang tua kerap kali membatasi kreatifitasnya. Dilarang ini, dan tidak boleh itu. Pemikiran yang melekat di benaknya hingga dewasa saat ini.

Bagi Mr. Kim tidak semua petuah dari jaman dahulu sesuai dengan kehidupan masa kini. Setiap manusia harus mampu beradaptasi dengan perputaran jaman. Apalagi saat Tradisi Sesi (tradisi Korea Selatan untuk berkumpul bersama keluarga), Mr. Kim akan malas menyapanya. Pun kurang setuju dengan beberapa ritual tradisional seperti “Nut Cracking,” “Treading on the Bridge” dan “Hanging a Lucky Rice Scoop” karena keberuntungan itu wajib melalui perjuangan, bukan ritus seperti di atas.

Tapi semenjak pertemuan dengan putrinya, Mr. Kim mulai menyadari betapa nikmatnya memiliki harta berupa keluarga itu. Mungkin akan berencana memperbaiki kasih sayang di dalam keluarganya.

Mr. Kim memang tak kunjung menikah saat berjumpa dengan putrinya. Komitmen pernikahan di negara yang mengutamakan kesetiaan cukup berat bagi Mr. Kim yang gemar berkelana dan bertemu banyak orang. Mr. Kim sepakat akan menikah untuk satu kali seumur hidup, dan membiarkan istrinya kelak hanya sebagai pengurus keturunannya. Sayangnya, Mr. Kim belum menemukan wanita tepat sebagai calon ibu putra-putrinya kelak. Setelah bertemu dengan Wika, putrinya, Mr. Kim mungkin memutuskan hanya memiliki satu anak saja.

Menurut saya, Mr. Kim adalah lelaki bujang yang hendak menampaki usia di angka 40 tahun. Mr. Kim memiliki kehidupan yang cukup misterius, memiliki hubungan baik dengan sejawatnya tetapi tidak dengan keluarganya. Mungkin berencana akan memperbaiki potongan hidupnya yang berserakan.

Tulisan ini diikutsertakan dalam give away. infonya disini.

Referensi:

– (1) http://www.paseban.com/ilmufilsafat/discussions/5739

– (2) Buku Semiotika Komunikasi, Drs. Alex Sobur, M.Si, hal.157, 2003, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.

– (3) http://edukasi.kompasiana.com/2012/05/14/11-makna-warna-untuk-personality-anda/

– Data budaya Korea Selatan : http://cindyascorditiasalim.blogspot.com/2010/11/inilah-contoh-bagaimana-adat-istiadat.html

Nut Cracking yaitu memecahkan kulit kacang-kacangan yang keras pada malam purnama pertama tahun baru.

Treading on the Bridge yaitu berjalan dengan sangat santai melewati jembatan di bawah bulan purnama pada malam purnama pertama tahun baru yang katanya dapat membuat kaki kita kuat sepanjang tahun

Hanging a Lucky Rice Scoop yaitu menggantungkan skop (sendok) pengambil nasidi sebuah jendela yang katanya akan memberi beras yang melimpah sepanjang tahun.

Advertisements

One response

  1. wahahahahah…..ini ni keliatan anak ilmu komunikasi yg nulis..xixixixi..tunggu kabar2i nya ya..hehehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: