MENCIPTAKAN KEHIDUPAN SEKOLAH YANG KONDUSIF

Oleh : Wuri Nugraeni

Empat roda mobil berputar menjelajahi bukit, berteman jurang, di antara hilir mudik kendaraan lainnya. Satu hal, retina saya dimanjakan dengan barisan pepohonan hijau yang membentang luas, susunannya meliuk-liuk seumpama menciptakan abstak bernilai seni tinggi. Sementara itu, di sisi lain saya harus komat-kamit berharap tidak mencium bibir atau  dasar tebing yang curam. Ditambah lagi, lalu lintas yang sempit ini justru banyak saya temui pengendaran yang menggeber gas kendaraannya seolah-olah tengah berada dalam arena balap.

Ini masih awal perjalanan saya menuju ke SD Tenjowaas. Lokasinya di desa Girimukti, kecamatan Bojonggambir, kabupaten Tasikmalaya. Saya harus menempuh perjalanan sekitar dua jam dari pusat kota Tasikmalaya. Sebuah sekolah yang sangat jauh dari jangkauan perkotaan. Saya mendadak ingin menyenandungkan lagu Hatori selama di perjalanan, mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra…

Foto: Pemandangan selama perjalanan

Ketika rombongan saya yang terdiri dari supir, satu orang kameramen, dan seorang klien sampai di gedung PGRI, mereka menyambut dengan ramah. Tanpa menunggu lama, seorang perwakilan menemani kami melanjutkan perjalanan menuju ke sekolah yang terletak di atas. Pemandu sebenarnya memberi saran untuk menyewa ojek motor. Namun, mengingat alat liputan yang tidak ringan, maka kami sedikit nekat meneruskan perjalanan bersama mobil kantor.

Ban kendaraan yang awalnya mulus, harus bertemu dengan batuan cadas, sesekali gundukan tanah merah yang basah. Mobil juga sempat terjebak di pinggir jalan, benar-benar hanya tiga puluh senti dari tepi jurang, untung mendapatkan bantuan dari warga yang kebetulan melintas. Bahkan saya sempat berpapasan dengan bocah yang mengendarai motocross sambil membonceng anak yang lebih kecil darinya. Ah, pantas saja motor ojek semuanya dimodifikasi layaknya motor untuk lapangan off road karena medan yang berat.

POTRET SATU SEKOLAH

Saya mendesah panjang, selepas dua bola mata menangkap bangunan sekolah yang sederhana. Apalagi bagian belakang sekolah terbentang pemandangan yang elok, hingga saya terasa dekat dengan langit karena masih tergolong di dataran tinggi.

Foto: Tangga menuju kelas IV, V, dan VI

Bentuknya seperti huruf “L” yang terpisah. Tiga kelas di deretan “I” terletak di bagian bawah, dan kelas IV sampai kelas VI di deretan “_” yang posisinya lebih tinggi. Halaman sekolah juga hanya beralaskan gundukan tanah biasa. Tetapi, udaranya sejuk langsung menentramkan saraf-saraf saya yang tadi sempat tegang.

Foto: Denah SD Tenjowaas

Para bocah berseragam putih merah itu berada di dalam kelas masing-masing, tetapi saya masih dapat mendengar keriuhan dari lapangan sekolah yang alakadarnya ini. Kepala sekolah dan guru setempat menyambut kedatangan saya dan kru liputan. Namun, kenyataan menyuguhkan cerita lain ketika saya menginjakkan kaki di sana. Di tahun, yang katanya era modern, konon sudah mengalami kemajuan pesat, hingga musimnya melek teknologi, nampaknya belum seutuhnya menyapa mereka.

1. Kelas Baru, Kelas Lama

Murid-murid kelas I sampai dengan kelas III tergolong beruntung, mereka sudah mencicipi kelas yang bisa dibilang layak. Sekat antar ruang yang kokoh, cat dinding yang berwarna cerah, dan keramik lantai yang mulus. Namun, tiga kelas sisanya justru berbanding terbalik. Dindingnya sudah usang, warna cat putih pun memudar oleh hujan dan terik panas, sebagian juga masih menggenakan anyaman bambu. Tampak lantainya juga hanya berlapis tegel lama berwarna hitam keruh. Kondisi kelas tersebut malah mengingatkan saya terhadap bedeng (rumah darurat-pen).

Foto: Atap kelas dari anyaman bambu

2. Lepas Kaki

Bagi penghuni kelas baru, para siswa diwajibkan melepaskan alas kaki mereka, seakan terlalu sayang, hingga tidak ingin mengotori lantai yang baru. Ada yang hanya memakai kaos kaki, sebagian lagi lebih nyaman tanpa balutan apa-apa di telapak kakinya. Ritual sebelum hadir di dalam kelas adalah melepaskan sepatu, baris-berbaris di depan kelas masing-masing, masuk ke dalam kelas dengan mencium punggung tangan guru terlebih dahulu.

Foto: Baris sebelum masuk kelas

3. Berbagi Buku

Saat pelajaran dimulai, saya memilih masuk ke dalam kelas, memperhatikan satu per satu anak yang tengah belajar bahasa Indonesia. Kebetulan kelas yang saya masuki adalah kelas I. Setiap anak sibuk menulis di atas buku tulisnya, pensil mereka tersisa sangat pendek tetapi tampil antusias mengerjakan tugas. Hanya saja, ada satu buku paket di setiap meja. Ya, satu bangku yang terdiri dari dua sampai tiga anak itu harus berbagi satu buku paket. Bukunya juga tidak untuk dibawa pulang, hingga para siswa tiada berkesempatan belajar di rumah.

Foto: Satu buku paket buat berdua

4. Kelas Berlubang

Ketika langkah saya sampai di ruang kelas V, saya mendapati dinding kelas dari anyaman bambu itu berlubang. Seketika ribuan pertanyaan menyeruakkan di dalan benakku.

“Bagaimana datang hujan deras?”

“Bilakah kelas ini bocor?”

“Apakah pelajaran mampu tercerap dengan fisik kelas seperti ini?”

Papan tulisnya juga masih mengenakan kapur. Fasilitas di dalam kelas terbilang minimalis, mulai bangku, kursi, penggaris segitiga, papan, hingga kapurnya.

Foto: Dinding kelas berlubang

5. Tanpa Bangku

Di dalam ruang kelas IV, tepatnya pas kedua kaki mencapai bagian belakang kelas, saya melihat dua anak yang sibuk memahami barisan kalimat dari guru tanpa bangku. Mereka berdua berdiri di meja paling belakang, sementara siswa-siswi lainnya sudah mendapatkan kursi masing-masing. Tapi, saya tidak melihat guratan kecewa dari kedua mimik mereka, jemarinya sibuk mencatat tulisan dari papan tulis, hanya ada pancaran mata ceria layaknya dunia anak-anak.

Foto: Tanpa bangku

6. Jalan Kaki

Aku sempatkan diri bertanya pada anak-anak kelas V, ternyata sebagian besar terpaksa berjalan kaki menuju sekolah ini. Posisi rumah mereka pun beragam, ada yang sangat dekat bahkan ada yang harus berjalan kaki hingga lima kilometer setiap harinya.

“Capek, nggak?”

Bergegas mereka menggeleng lalu berkata, “Enggaaakkk,” kompak.

Bibir langsung terasa tercekat, sembari menciptakan bayangan melayang jauh, mereka sampai di sekolah ini dengan bersimbah keringat, lalu memaksa otak untuk konsentrasi terhadap pelajaran. Ah, lagi-lagi aku terenyuh melihat semangat belajar mereka. Sinar kedua bola mata yang cerah, senyuman yang tersungging tulus, dan tangan yang terbuka lebar menerima kedatangan saya.

Sepenggal fragmen sesuai dengan apa yang saya lihat, saya rasakan, dan saya pikirkan. Dimanapun sekolah itu berapa, mau di jantung kota, atau di wilayah pelosok, mereka memiliki hak yang sama, salah satunya adalah mendapatkan ruang kelas yang layak. Sebuah ruangan yang tidak sekedar mementingkan arsitektur belaka, tetapi bagaimana memberikan kenyamanan dalam proses belajar mengajar.

BELAJAR PADA FINLANDIA

Kesuksesan negara-negara lain dalam membentuk sistem pendidikan mereka, dapat digunakan sebagai cermin. Kita dapat mengekor program-program mereka lalu memodifikasi untuk disesuaikan dengan karakteristik masyarakat Indonesia. Saat ini, negara dengan sistem pendidikan terbaik adalah Finlandia. Tiada dapat ditampik, negara yang terkenal dengan produk telepon genggam yang merebak di Indonesia itu, sempat menggelitik pelaku pendidikan dari negara maju lainnya untuk melakukan studi banding.

Finland was not succeeding educationally in the 1970s. Yet this country created a productive teaching and learning system by expanding access while investing purposefully in ambitious educational goals using strategic approaches to build teaching capacity.

(Pada 1970-an, Finlandia masih belum tergolong berhasil dalam dunia pendidikan…. Namun negara ini menciptakan pengajaran yang produktif dan sistem pembelajaran dengan memperluas akses sembari meraih tujuan besar dalam bidang pendidikan dengan menggunakan pendekatan strategis dalam membangun kapasitas mengajar)

[http://www.nea.org/home/40991.htm]

Ada beberapa hal yang dapat saya garis bawahi mengenai kehidupan di sekolah Finlandia. Setidaknya mampu memberikan pencerahan bagi gaya didikan di Indonesia.

1. Persamaan

Persamaan (equality) menjadi dasar utama dalam kesuksesan pendidikan di Finlandia. Mereka memberikan gaya pengajaran, kurikulum, dan fasilitas yang sama bagi seluruh sekolahan. Mereka tidak juga membagi kelas berdasarkan nilai, hingga tiada istilah kelas unggulan dan kelas biasa. Semuanya bercampur tanpa kotak-kotak si pintar dan si bodoh. Pun tiada ranking dalam seluruh penilaian, baik itu ranking murid di dalam kelas, ranking antar kelas dalam satu sekolah, ranking antar sekolah dalam satu wilayah, hingga ranking sekolah berdasarkan propinsi. Bahkan tidak dianjurkan memberikan nilai dalam bentuk angka. Sistem seperti ini bertujuan agar tidak ada kesenjangan antar murid maupun antar sekolah. Ditambah dengan tiada sekolah swasta dan bebas aneka pungutan, semakin membuktikan kalau Finlandia pantas meraih predikat negara dengan sistem pendidikan terbaik.

2. Waktu Bersekolah

Pada dasarnya, sekolah memberikan kebebasan bagi anak-anak untuk kapanpun memulai masuk dalam pendidikan formal. Namun, umumnya anak-anak Finlandia baru bersekolah pada usia tujuh tahun. Masa dirasa cukup bagi para bocah untuk belajar, setelah tahun-tahun sebelumnya mendapatkan kebebasan penuh hanya puas bermain terlebih dahulu. Umur tersebut dirasa waktu paling tepat bagi anak-anak untuk mengenal dunia belajar di dalam kelas.

3. Belajar Mengajar

Foto: Belajar (diambil dari: http://certificationmap.com/finland-education-system/)

Mereka membentuk perangai murid yang kritis. Anak-anak boleh berlari di dalam kelas, diijinkan untuk bertanya kapan saja kepada guru, sesekali berkutat dalam kelompok untuk mengenal arti kerja sama. Uniknya, setiap anak mendapatkan tugas yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan masing-masing. Setiap guru dituntut untuk mengenal pekerjaan apa yang cocok untuk setiap muridnya. Bahkan guru jarang sekali lama-lama berbicara seorang diri di depan kelas. Sebagian besar waktu digunakan untuk belajar sambil bermain bersama murid-murid. Rentang waktu belajar mengajar di sekolah Finlandia justru paling pendek, sebagian besar waktu anak-anak dihabiskan dengan bermain di luar daripada di dalam kelas. Satu hal lain yang tak kalah pentingnya, mereka jarang sekali memberikan pekerjaan rumah (PR).

4. Guru Terbaik

Setiap guru mengurus jumlah murid yang terbilang kecil, sekitar dua puluhan siswa. Guru tersebut juga terus-menerus yang menjadi tenaga pengajar selama beberapa tahun pada kelompok siswa tersebut. Hal ini dimaksudkan agar ada kedekatan secara personal antara guru dengan murid, selain itu guru akan mengenal baik perkembangan muridnya dari tahun ke tahun. Dengan tujuan akhir, guru dapat menuntun siswanya untuk mengembangkat bakat dan kemampuan mereka.

Finlandia melakukan perekrutan hanya kepada guru-guru yang berkualitas. Tugas guru tidak hanya mengajar, tetapi merangkul anak-anak untuk mengembangkan kreativitas. Guru pun tidak wajib menuruti 100% silabus dari pemerintahan tetapi memiliki hak sepenuhnya untuk bersuara demi kemajuan pendidikan mereka. Di sinilah peran aktif guru yang harus bersikap inovatif dalam proses belajar mengajar. Mereka membuka akses seluas-luanya kepada murid-muridnya yang ingin berkomunikasi, melalukan konseling, hingga dalam menghadapi kesulitan.

Saya seperti tumbuh dengan anak-anak saya sendiri. Saya melihat masalah yang mereka hadapi ketika mereka kecil. Dan, kini setelah lima tahun, saya masih melihat dan memahami perkembangan yang terjadi dalam masa muda mereka, langkah terbaik yang bisa mereka lalukan. Saya katakan kepada mereka saya seperti ibu sekolah mereka” tuturnya. (Ibu guru Marjaana Arovaara-Heikkinen-pen) [http://mediaonlinenews.com/dunia/firlandia-negara-dengan-sistem-pendidikan-terbaik-di-dunia]

Di setiap akhir tugas, guru melakukan evaluasi mengenai perkembangan masing-masing anak didiknya. Tentu saja, guru mendapatkan kompensasi yang setimpal, sebagai profesi yang sangat membanggakan karena memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak bangsa.

5. Kurikulum

Foto: Kurikulum Finlandia (info dari: http://www.metafilter.com/tags/finland)

6. Bebas Kepentingan

Pemerintah Firlandia bertanggung jawab penuh terhadap perkembangan murid, guru, dan kondisi sekolah. Pihak tersebut juga 100% terbebas dari kepentingan kelompok tertentu, kepentingan para pendidik, kepentingan bisnis, maupun politik dan militer. Tidak ada istilah buku-buku, aneka les privat yang dimanfaatkan sebagai komoditas. Sekolah benar-benar bersifat mandiri dan diperuntukkan untuk menyetak generasi penerus bangsa yang berbobot.

7. Budaya Membaca

Faktor luar yang juga menentukan adalah budaya membaca yang sudah berpendar di khalayak Finlandia. Peran orang tua juga penting sebagai pihak pertama yang menanamkan budaya membaca tersebut. Sehingga para bocah tersebut sudah terbiasa dengan budaya membaca sedari kecil.

Foto: Membaca (foto dari: http://finland.fi/public/default.aspx?contentid=160104)

Berdasarkan tes PISA (Program For International Student Assessment), yang bertugas menguji perkembangan anak-anak sekolah pada usia 15 tahun di seluruh dunia, membuktikan kalau anak-anak Finlandia mengalami kemajuan yang pesat. Program yang dilaksanakan oleh Organisation For Economic Co-operation and Development (OECD) ini untuk mendapatkan metode pendidikan yang paling sempurna di dunia.

Poin-poin tersebut dapat menjadi ikhtibar bagi perbaikan kualitas pendidikan di Indonesia. Agaknya banyak hal pada sistem pendidikan Indonesia yang perlu diperbaiki. Mulai dari pemerataan pendidikan di seluruh wilayah, gaya pengajaran, penyeleksian guru ulung bukan sekedar rentang waktu pengabdian, hingga dukungan dari masyarakat Indonesia. Semua hal tersebut memiliki satu tujuan, yaitu menciptakan sistem pendidikan yang tepat bagi anak-anak bangsa sebagai pemegang tongkat estafet pemimpin di masa depan.

LINGKUNGAN YANG KONDUSIF

Saya kembali teringat dengan pemikiran Charlotte Mason, seorang pendidik yang menghabiskan hidupnya dengan meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak. Saya cukup tergelak dengan keyakinan kalau tenaga pengajar jangan mengambil alih tugas anak-anak dalam mencerna pelajaran dengan sendirinya. Guru-guru bukanlah sosok yang bertugas untuk sekedar melakukan transfer ilmu, tetapi sebagai pembimbing bagi anak-anak untuk menyelami pelajaran, karena setiap anak terlahir dengan unik dan memiliki karakteristik tersendiri.

Charlotte emphasized treating each child as a person, not as a container into which you dump information. She believed that all children should receive a broad education, which she likened to spreading a feast of great ideas before them.

(Charlotte menekankan bagaimana memperlakukan setiap anak sebagai pribadi, bukan sebagai wadah dimana Anda membuang informasi. Dia percaya bahwa semua anak harus menerima pendidikan yang luas. Ibaratnya dengan menyebarkan ide-ide besar terlebih dahulu kepada mereka)

[http://simplycharlottemason.com/basics/started/cmedphil/]

Sebagai diri sendiri, dapat membentuk suasana pendidikan yang mengayomi dengan tidak membandingkan nilai satu anak dengan anak lainnya. Juga dengan tidak bertanya ranking berapa mereka saat ini. Pun dengan tidak memberikan kalimat negatif yang dapat merendahkan semangat belajar mereka. Kita dapat bersikap terbuka pada siapa saja yang hendak bertanya soal pelajaran, atau menceritakan pelajaran dengan bahasa ringan. Kondisi lingkungan seperti ini dapat menurunkan ketegangan anak dapat menempuh pendidikannya di sekolah.

Sebagai orang tua, dapat memulai dengan memperkenalkan budaya membaca sedari dini. Mengenalkan buku pada anak, melalui membacakan cerita apabila anak belum dapat membaca. Tidak memaksa anak untuk terus belajar, bersikap tenang ketika anak mendapatkan nilai merah, hingga menceritakan kisah-kisah tokoh inspiratif yang dapat menjadi idola mereka.

Sebagai guru, ikonik dunia pendidikan, agaknya mulai menciptakan suasana belajar yang santai serta sarat akan hiburan. Sesekali menonton film yang sesuai dengan usia mereka, membuatkan kelompok agar murid-murid dapat bereksperimen, hingga bersikap terbuka kapan saja kepada setiap siswa-siswinya. Guru, sebagai pihak yang terjun di lapangan langsung, juga dapat bersuara agar menghasilkan kurikulum yang terus lebih sempurna.

Sebagai pemerintah, memiliki tanggung jawab penuh dalam penyusunan sistem pendidikan yang kondusif. Bagaimana pun juga, anak-anak tersebut yang nantinya akan menduduki jabatan di level pemerintahan kelak.

Disinilah letaknya pengaruh lingkungan bagi kehidupan di sekolah. Apa yang berserakan di sekeliling mereka akan memberi dampak bagi mereka kembali. Sesuai dengan penggalan puisi Dorothy Law Nolte berjudul “Anak Belajar dari Kehidupannya”:

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.

Jika anak dibesarkan dengan dorongan, is belajar percaya diri

[Drs. Jalaluddin Rakhmat, M.sc., Psikologi Komunikasi, hal.103, 2001, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung]

Dengan dukungan seluruh pihak dan tekad yang kuat, kita akan mampu menyusun sistem pendidikan terbaik bagi murid-murid di negeri ini. Masalah pendidikan yang menggelayut saat ini, bagaikan labirin luas, semuanya dapat dikubur dengan inovasi secara simultan. Berawal dengan menyusun kerangka di otak kalau guru adalah ibu sekolah murid-murid, kalau guru adalah pekerjaan yang bernilai tinggi, kalau guru adalah sahabat para siswa. Ah, saya jadi ingat kalimat “besar” dari Bu Muslimah ketika saya menemuinya di kediaman Beliau…

Guru adalah salah satu penentu masa depan bangsa.”

Foto: Bu Mus saat berbagi cerita.

Referensi:

Buku Psikologi Komunikasi, Drs. Jalaluddin Rakhmat, M.sc., 2001, Pt. Remaja Rosdakarya, Bandung
http://www.nea.org/home/40991.htm
http://certificationmap.com/finland-education-system/
http://mediaonlinenews.com/dunia/firlandia-negara-dengan-sistem-pendidikan-terbaik-di-dunia
http://www.metafilter.com/tags/finland
http://finland.fi/public/default.aspx?contentid=160104
http://simplycharlottemason.com/basics/started/cmedphil/

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Gerakan Indonesia Berkibar “Guruku Pahlawanku” diselenggarakan oleh Gerakan Indonesia Berkibar (Facebook atau Twitter). Info lomba ada disini.

Advertisements

One response

  1. Keren bu.. Beda jauh ya kita sama finlandia 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: