Kalimat Nyinyir di Sekitar Kita

Judul buku: I’m (Not) Perfect
Walaupun tidak sempurna, perempuan tetap bisa bahagia
Penulis: Dian Kristiani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal buku: 153 halaman
No ISBN: 9789792294651

re_buku_picture_86872

Konon, karakter perempuan sempurna adalah: menikah => melahirkan dengan jalur normal => melayani suami agar setia => menjadi wanita karier yang sukses => menyekolahkan anak di level internasional => dst… agar hidup bahagia. Seolah-olah perempuan sempurna adalah sukses di segala bidang. Frame seputar perempuan sempurna tersebut seakan menjadi dalih mereka menelurkan kalimat nyinyir. Pasti, setidaknya kita pernah menerima pertanyaan:

“Kapan menikah?” => bagi yang masih single.
“Kok belum hamil-hamil?” => bagi pasangan, seperti saya sekarang 🙂
“Anaknya kok kurus banget.” => bagi orang tua.
Dst…

Mungkin, sebagian besar menilai pertanyaan itu sebagai bentuk perhatian. Tapi, benarkah? Alangkah baiknya kalimat (yang katanya) perhatian itu juga terselipkan solusi?
Misalnya,
X: Belum hamil? Coba makan tauge, olah raga, bla… bla… bla…
Bandingkan dengan,
X: Kok enggak hamil-hamil? Kasihan ya kamu pasti kesepian kalau suami kerja.
Kalau yang pertama bisa tergolong perhatian. Tapi kalau yang kedua… hhhmmm… nyinyir yang tanpa disadari (mungkin) menyakiti hati seseorang.

Ketika membaca sampai tuntas, saya memahami bagaimana kalimat negatif itu akan kerap kali mengekori langkah kita. Mulai ejekan karena belum menikah atau sindiran infertilitas. Belum lagi ketika sudah memiliki anak, ada kalimat yang menyudutkan karena memilih melahirkan dengan jalur operasi caecar. Pun kalimat sinis karena seorang ibu membelikan anaknya susu murah, tidak menyekolahkan di level internasional, atau tega membiarkan anaknya menangis tanpa mau menurutinya.

Pasti, setiap perempuan pernah mengalami (setidaknya satu cerita) di buku ini. Penulis seakan menarik pembaca berada di posisi pihak yang menerima kalimat nyinyir. Apa kamu kamu diperlakukan seperti itu? Bagaimana perasaanmu ketika kamu berada di posisi mereka? Buku yang memaksa pembaca lebih menggali rasa empati, bukan kasihan lho ya. Hikmah yang membuka pandangan bagaimana cara kita bersosialisasi. Dan, ketika di akhir tulisan pun berkata, “Buku ini gue banget.” Bila lingkungan masih membudayakan nyinyir, setidaknya kita dapat mulai dari diri sendiri, dengan menjaga ucapan kepada perempuan lain.

Lidah memang tidak bertulang. Semoga saya juga bisa mengatur ucapan diri sendiri. Oh ya, saya ingin meng-aamiin-kan doa penulis di bab terakhir *wink-wink. Ditunggu tulisan inspiratif berikutnya ya…

Advertisements

14 responses

  1. hahaha, aku juga sering dapet kalimat kaya gitu. Kuncinya pura-pura gak denger

    Like

  2. sudah terbit ya bukunya… pengen punya ik.. beli dimana ya mbak…

    Dulu aku juga sering digituin,,, annoying.. kok belum punya baby , kan dah lama nikahnya —- batinku emang gw yang ngatur.. kekeke…

    kalo sekarang, kok anaknya kurus.. —- hadeh… yang penting sehat n lebih pinter dari anakmu, bu 😀

    Mbak Wuri terus semangat yaaa.. kalo dah rejekinya pasti dikasih anugrah jadi ibu.. bisa dicoba puasa dan banyakin dzikir “ya mushawiruu” setelah habis sholat… 🙂 Aku dulu 3 tahun baru dikasih kepercayaan.. diambil hikmah ajah masih disuruh pacaran ma suami, msh bisa travelling sana-sini pula.. kalo dah da buntut.. sussseee 🙂

    Like

  3. bener jeng Wuri, buku ini seakan-akan mengupas perihal ‘gue banget’. sebagai perempuan kita harus mulai dari diri kita sendiri untuk tidak nyinyir pada sesama perempuan. Di balik (not)perfect ini, pasti banyak hikmah yang bisa kita ambil sebagai pelajaran utk mensyukuri apa pun yang kita miliki saat ini *komen di bawah efek obat 😉

    Like

  4. Tul banget deh, hihi…aku malah belum bikin review buku ini. Buku mbak Dian ini memang penuh inspirasi. JAdi ingat pernah menjadi korban nyinyir dari sesama perempuan. Memangnya kalo masak cuma bisa pd hari minggu, i’m not perfect? Ah, sudahlah…nggak ada manusia yang sempurna.

    Like

  5. kalimat nyinyir yang juga mampir ke sayah “kapan mau nambah adik lagi untuk Zahra, kan Zahra udah besar, emang ikut KB ya? Kasihan Zahra sudah besar masih sendiri????” Hadeeeuuuhhh emang kita yang ngatur ya? kapan mau nambah anak tinggal “tring” dan hamil…..
    #buku ini wajib beli deh…mau saya pinjemin ke yang suka nyinyir xixixixixi

    Like

  6. hehe iya juga ya 🙂

    Like

  7. Iya sudah ada di toko buku kok bukunya, kayaknya sudah 2 bulan-an. Terima kasih ya *muach

    Like

  8. aku yo gumun, tumben Mbak bener hihihi *muach

    Like

  9. *tos mbak. aku yo ndak jago masak kok 🙂

    Like

  10. hehe monggo beli Mbak. di toko buku sudah ada 🙂

    Like

  11. “Lagi hamil, ya?” pertanyaan yg paling sering bikin sy keki krn sy kan gak lagi hamil 😀

    Like

  12. Hehe, makasih sudah mampir 🙂

    Like

  13. Hiks, kalimat yg sering ke saya: “Kok, lum hamil-hamil?” 😦

    Like

  14. moga kita sama-sama lekas hamil yak, aamiin yra :*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: