Proses Kreatif Novel

Siapa yang bermimpi suatu saat harus menelurkan novel?
Atau mana nih penulis yang masih menggeliat semangatnya?
Walaupun saat ini sudah banyak postingan sepak terjang penulisan buku, tetapi setiap judul novel kerap kali memiliki cerita tersendiri. Nah, kali ini saya berkesempatan kepoin Nia Nurdiansyah seputar proses kreatif naskah My Cup of Tea, serta pengalamannya di dunia penulisan.

Nia Nurdiansyah
Pecinta buku semenjak kecil ini mengawali debut menulisnya pada tahun 2000. Tepatnya ketika memenangkan lomba cerpen salah satu majalah remaja. Nia juga aktif di Jakarta Arts Council Novel Writing Workshop semenjak 2009. Tempat Nia bertemu dengan guru hingga membukakan pintu menjadi penulis. Buku My Cup of Tea adalah novel perdananya dengan penerbit GagasMedia.

ch-minaflo2 (Medium)

Bagaimana awal tercetusnya ide menuliskan naskah My Cup of Tea?

Awalnya terinspirasi dengan cerita persahabatan saya dengan seorang teman di masa kuliah yang terlanjur masuk ke ‘friend zone‘, tapi kemudian saya mulai riset dan ingin memasukkan unsur kuliner, terutama tentang pastry ke dalam cerita. Jadilah dibuat profesi tokohnya adalah seorang koki pastry.

Sejauh mana riset yang dilakukan demi kebutuhan naskah My Cup of Tea?

Riset yang dilakukan untuk novel ini cukup penting karena saya sendiri masih awam soal dunia pastry atau cold kitchen. Untungnya punya kenalan seorang chef di hotel yang mau membantu dan bisa diajak ngobrol soal hal tersebut, meskipun dia sendiri bekerja lebih banyak di bidang masakan, tetapi dia memberikan gambaran umum tentang dunia tersebut. Untuk riset tempat, terutama seting taman, saya mengambil tempat di taman dekat sekolah saya waktu SD di Cimahi, Bandung, jadi risetnya lebih mudah.

Bagaimana Nia mengembangkan karakter tokoh di novel My Cup of Tea?

Terus terang, belum maksimal sih. Tokoh yang ingin saya hidupkan dan paling cemerlang tuh niatnya Dipi, tetapi dalam perjalanan rasanya tokoh Art yang lebih kuat muncul di pikiran saya. Biasanya, saya mencari gambaran atau profil yang sesuai untuk tokoh-tokoh di dalam ceritanya untuk memperkuat penokohan, tapi entah kenapa belum nemu tokoh Dipi sampai cerita selesi dibuat. Baru setelah bukunya terbit ada figur chef di dunia nyata yang mirip sama karakter Dipi ini. Mungkin di cerita lanjutannya saya akan riset dengan mewawancarai figur tersebut agar penokohannya lebih kuat.

Bagaimana Nia menyusun plot di novel My Cup of Tea?

Plot saya susun dengan mengumpulkan ide untuk masing-masing bab yang kemudian saya tuangkan dalam outline. Setiap bab mengangkat suatu hal yang ingin disampaikan, dan dimasukkan juga detail-detail apa yang ingin dimasukkan ke dalam outline tersebut.

Apa momen terberat selama menuntaskan naskah My Cup of Tea?

Momen terberat tuh, saat harus disiplin menyelesaikan tulisan sesuai outline dan jangka waktu yang dibuat sendiri. Rasanya seperti anak sekolah yang punya PR tiap malam dan harus mengalahkan rasa malas agar tulisannya cepat beres. Sisanya sih, fuun, πŸ™‚ karena udah suka dengan ceritanya.

Bagaimana proses awal hingga akhirnya buku diterima di Gagas Media?

Awalnya mengajukan cerita yang sudah jadi ke editor. Setelah menunggu beberap bulan baru ada jawaban, yang kmudian ditindaklanjuti dengan revisi dan menggarap masukan-masukan yang diberikan penerbit. Setelah itu, barulah proses untuk naik cetak. Mulai dari memilih cover, ilustrasi, hingga blurb untuk cerita serta tagline-nya.

Bagaimana cara Nia menarik pembaca, karena ini debut pertama dengan GagasMedia?

Sebelumnya, saya memang sudah menulis untuk penerbit lain, tetapi untuk genre cerita yang saya tulis saat ini, saya yakin GagasMedia sudah punya pangsa sendiri untuk pembacanya. Namun, untuk menarik pembaca, karena saya termasuk baru di GagasMedia, saya berharap teman-teman yang sudah membaca bukunya bisa menemukan ‘sesuatu’ yang kemudian ketika saling diinfokan kepada yang lain akan menarik pembaca yang lain lagi untuk membacanya. Saya percaya, semua cerita dan kisah akan punya tempat di hati pembaca meskipun sedikit. Tentu, buku pertama di GagasDebut ini juga memberi saya banyak pembelajaran untuk menulis dan menyentuh hati pembaca lebih baik lagi. Semoga ke depannya, karya saya di GagasMedia bisa lebih baik dan dapat diterima lebih luas.

Bagaimana membagi waktu antara menulis dengan aktifitas lain?

Kalau sedang tidak ada pekerjaan, saya biasanya menulis mulai pagi hari hingga siang. Diseling istirahat satu jam kemudian lanjut kembali sampai kurang lebih pukul 4 sore. Jika sedang dalam masa deadline, biasanya akan dilanjutkan selepas Isya sampai maksimal jam 11. Kalau pada saat ada proyek pekerjaan lain, saya tetap menyelipkan aktivitas menulis minimal satu jam sehari dan pada saat waktu luang.

Ada tip bagi penulis yang hendak membuat naskah novel?

Pertama, perkuat ide dan konsep dengan riset. Buat dan patuhi outline serta waktu yang sudah kita set untuk menyelesaikan tulisan tersebut. Kadang, faktor keberhasilannya terletak pada kedisiplinan kita untuk menyelesaikannya.

Terima kasih buat Nia yang sudah meluangkan waktu untuk membalas wawancara ini. Semoga sukses dengan My Cup of Tea dan ditunggu karya berikutnya.
Bagi yang penasaran dengan novel My Cup of Tea bisa mengintip review saya disini.

Mau dapat tip penulisan lain?
Masih ada beberapa judul postingan seputar dunia penulisan nih, tunggu saja di blog ini, atau ikuti tag “gagasdebut” ya.

Advertisements

6 responses

  1. ditunggu dari penulis lainnya πŸ™‚

    Like

  2. […] salah satu kru GagasMedia. Setelah kemarin saya posting seputar tip penulisan dari penulis di mari. Kali ini saya pengin membongkar dunia penulisan versi editor. Posisi editor, pasti memiliki peran […]

    Like

  3. […] masuk di tag “gagasdebut” ya. Kalau ingin dapat tip penulisan dari penulis lain ada di sini, kalau tip penulisan versi editor ada di mari. Bagi yang mencari judul novel lain, sila intip […]

    Like

  4. […] Terima kasih Odet sudah mau membalas wawancara ini. Masih ada satu tip lagi seputar dunia penulisan yang akan saya posting di blog ini atau ikuti tag “GagasDebut” ya. Untuk tip penulisan sebelumnya silahkan klik ini. Kalau butuh novel menarik lain bisa intip di posting ini atau penulis ini. […]

    Like

  5. […] My Cup Of Tea,Β ditambah hasil wawancara dengan penulis kedua novel tersebut, yaitu Odet Rahma dan Nia Nurdiansyah, terbersit tanya, “Sebenarnya, benarkah seorang novelis hanya membutuhkan naskah yang menarik […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: