Personal Branding Bagi Penulis

Setelah saya membaca dua novel keluaran penerbit GagasMedia, yang berjudul Selamat Datang Cinta dan My Cup Of Teaditambah hasil wawancara dengan penulis kedua novel tersebut, yaitu Odet Rahma dan Nia Nurdiansyah, terbersit tanya, “Sebenarnya, benarkah seorang novelis hanya membutuhkan naskah yang menarik saja?” Akhirnya saya meminta waktu dari tim penerbit soal personal branding bagi penulis.

Mudin Em, biasa dipanggil Em. Pernah bekerja di perpustakaan sekolah, lembaga untuk kampanye membaca, toko buku, dan sekarang di penerbit GagasMedia sebagai Koordinator Relationship. Anak Betawi asli, lahir 6 Agustus 1982. Punya motto “biar miskin yang penting jalan-jalan”. Selalu antusias mencoba berbagai jenis kopi dan teh serta menikmati hujan.

Mudin Em

Sejauh mana pentingnya penulis untuk membangun personal branding mereka?

Kalau kamu ingin serius profesi menulis, maka membranding diri merupakan keharusan. Tujuan branding bukan menjadi terkenal tapi menciptakan kesadaran (awareness) pembaca terhadap karyamu. Semakin dini kamu memulai, semakin mudah pembaca mengidentifikasi gaya tulisanmu yang menjadi ciri khas dan membuatmu menyolok di antara karya-karya yang lain.

Bagaimana dengan pendapat kalau saat ini selebtwit/artis/tokoh popular lain lebih mudah menelurkan buku?  

Persoalan menerbitkan buku berkaitan dengan dua hal: konten dan kemampuan menulis. Siapapun, selama punya konten dan memiliki kemampuan menulis punya hak menerbitkan buku. Bahwa selebtwit/artis/tokoh populer punya akses yang lebih mudah ke penerbit, wajar saja. Itulah pentingnya berjejaring. Namun, perlu digarisbawahi lagi bahwa mau orang biasa atau public figure yang menerbitkan buku, semua melalui proses yang sama di penerbitan. Mereka harus tetap mengajukan ide naskahnya dan melalui proses pengeditan sebelum naskahnya terbit. Dan siapapun yang menerbitkan buku, pada akhirnya naskah yang baguslah yang akan diterima oleh pembaca.

Apakah saat ini lebih penting personal branding agar menjadi seleb daripada sekedar mempersiapkan kualitas naskah?  

Tergantung selama apa si penulis menginginkan karir menulisnya. Dengan personal branding harapannya ke depan si penulis semakin dikenal nama dan gayanya oleh pembaca. Bagi penerbit sendiri tentu akan lebih mudah mempromosikan penulis yang sudah jelas siapa pembacanya. Tentu saja, ini ada hubungannya dengan kualitas naskah, karena naskah yang baik adalah naskah yang tepat sasaran ke target pembacanya.

Penulis dengan karakter seperti apa yang sesuai dengan Gagas Media?  

Tidak ada karakter spesifik. Pemilihan naskah biasanya disesuaikan dengan tema atau genre yang sesuai dengan pembaca GagasMedia. Kami selalu memberi ruang untuk berdiskusi dan langkah-langkah untuk pengembangan karir temanteman penulis.

Naskah seperti bagaimana yang memiliki daya jual?  

Semua naskah memiliki daya jual. Sebelum terbit, redaksi berembuk untuk merumuskan pengemasan dan promosi tiap judul buku. Ada buku yang sengaja ditargetkan untuk komunitas tertentu misalnya pecinta karya sastra, penggemar novel misteri, pecinta karya-karya bersetting Korea dan lain sebagainya. Tapi, ada juga buku yang ditargetkan untuk pembaca umum.

Apakah saat ini lebih baik penulis fokus hanya satu genre buku?  

Sebenarnya tidak ada larangan bahwa penulis harus menulis hanya satu genre. Tapi biasanya orang lebih respek pada dokter spesialis daripada umum, karena yang spesialis biasanya lebih bisa menjawab kebutuhan pasiennya. Dihubungkan dengan dunia menulis, “dokter spesialisnya” adalah penulis prolific, yaitu penulis yang dikenal menghasilkan karya secara konsisten di genre tertentu. Beberapa penulis prolific kemudian menjadi nama besar di genre itu. Semakin awal, seorang menentukan genrenya tentu akan lebih mempermudah dia untuk mengenali kebutuhan pembacanya.

Bagaimana tip bagi penulis dalam mempromosikan bukunya?

Kenali pembacamu, karena dengan mengenali pembaca artinya kamu akan tahu prilaku, tempat nongkrong, obrolan, dan kebiasaan pembacamu yang bisa menjadi bahan untuk menentukan cara berpromosi yang tepat.

Ada tip personal branding, khususnya bagi calon penulis?  

Sekarang ini, informasi mengenai diri penulis sebaiknya bisa diakses pembaca dengan mudah. Terutama di karya awal, seorang penulis harus memastikan bahwa kontak dirinya tercantum di profil. Dengan pembaca tahu Facebook, Twitter, dan Blog/Website si penulis, maka mereka akan lebih mudah menyampaikan komentar atau kritik tentang karyamu langsung. Dengan begitu, selain  si penulis mengetahui respon pembaca akan karyanya, penulis juga bisa mengidentifikasi profil pembaca karyanya.

Terima kasih Mas Mudin atas waktunya membalas wawancara ini. Bagi yang ingin mendapatkan tip menulis dari kacamata editor, bisa mengintip postinganku di sini. Atau ikuti tag “gagasdebut” ya.

Advertisements

29 responses

  1. Personal Branding ku opo yo kiro2 mbak *sok artis 😀

    Like

  2. *manggut-manggut* 😀

    Like

  3. Wah, penting ini. Terimakasih 🙂

    Like

  4. branding diri sendiri mak, mo jadi penulis yang gimana di mata pembaca, gitu

    Like

  5. Info kece! Makasih, Mak!

    Like

  6. Branding memang penting. Yang susah kalau terlalu banyak keinginan nulis berbagai genre :p

    Like

  7. Duuuh, ini orang yang emailnya sy tunggu2. Hihihi… Tapi kemarin yang project Gagas Debut ga terpilih. Ihiks…
    Makasih mbak buat interviewnya 😀

    Like

  8. Nah itu dia, penginnya banyak hihihi #kemaruk

    Like

  9. Cemungud, katanya masih ada project lain nantinya #SokTahu hihi

    Like

  10. Personal branding ya mba,,hemmmm,,aku spesialis apa yaa mba,,yg ada di kepala ya itu yg ditulis hi hi bingung mo membranding seperti apa he he *membranding ada ngga sih :)*

    Like

  11. bisa tuh personal branding lewat blog 🙂

    Like

  12. Menyimak adik guru.

    Like

  13. Mas Mudin ganteng yo mbak. Loh?

    Like

  14. Sekarang kebanyakan yang disukai semacam tulisan komedi Raditya Dika, atau Alitt Susanto. 😀

    Like

  15. haha cek di KBBI dulu gih 🙂

    Like

  16. ho’oh ya, berlaku juga di dunia blogging.

    Like

  17. iya mak…kayak tepe2 gitulah..tinggalkan jejak dimana-mana 🙂

    Like

  18. wah baru mampir sekarang aq di interview keren ini, padahal udah pernah ketemu langsung ama mudim, thanks wuri utk interviewnya 🙂

    Like

  19. sama-sama mbak, sayang kita belum berjodoh di SMG, huhuhu

    Like

  20. Branding itu brarti spesialisasi kita ya nulis ttg apa?? Boleh gak tuh klo kita mem branding kan diri dlm 2 jenis tulisan? Misal.. Branding penulis anak dan kuliner, ini misal lho mbak hehehe, soalny aku jg blm tau aku brandingnya apa hahahaaha.. Oiya salam kenal ya 🙂

    Like

  21. Sah-sah aja sih, ada temanku yang nulis anak+komedi dan sekarang nyoba romance 🙂

    Like

  22. Reblogged this on Hadi Kurniawan and commented:
    Yang kucattet ini “Kenali pembacamu, karena dengan mengenali pembaca artinya kamu akan tahu prilaku, tempat nongkrong, obrolan, dan kebiasaan pembacamu yang bisa menjadi bahan untuk menentukan cara berpromosi yang tepat.”
    Mantap

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: