Jalan Setapak Mistis

Judul: Cruise Chronicle
Penulis: Ruwi Meita
Penerbit: GagasMedia
Tebal buku: 296 halaman
ISBN (13) 978-979-780-668-2
ISBN (10) 979-780-668-5

2013-12-26 12.50.03

 Ada sebuah jalan setapak mistis. Namanya jalan setapak Para Kekasih. … Konon, jalan itu bisa membuktikan besarnya cinta sepasang kekasih. Jika ada sepasang kekasih berjalan dari arah yang berbeda melewati jalan itu, mereka bisa bertemu tepat di bawah pohon paling besar. Namun, jika ternyata salah satu dari mereka memiliki keraguan atau dua cinta, jalan itu tidak akan mengizinkan mereka untuk bertemu. (hal. 1-2).

Ruwi (penulis) langsung menyihir saya di halaman pertama. Dia menciptakan semacam dongeng yang menghantui tokohnya di sepanjang cerita. Untuk membuktikan jalan setapak Para Kekasih.

Menilik judulnya, Cruise Chonicle, dominasi seting cerita memang seputar kapal pesiar. Kapal tersebut melaju dari Spanyol, lalu transit di Marseille (Perancis), dan Genoa (Itali), hingga berakhir di Venesia (Italia). Reya mendapatkan dua tiket perjalanan gratis dari salah satu klien besar kantornya. Reya pun mengajak sepupunya, Vini. Sebut saja kedua cewek tersebut salah jalur, karena kapal pesiar identik dengan pasangan atau liburan keluarga besar. Namun, justru di atas kapal tersebut konflik mulai bermunculan. Reya yang berharap dapat melupakan cinta pertamanya, Langit, tetapi bertemu dengan Gustave (chef di kapal pesiar). Belum lagi Musha, kawan kerja Reya, yang berencana menyatakan cinta di atas Menara Cinta. Walaupun Musha terpaksa menunda pertemuannya dengan Reya karena bertemu dengan Sirens. Tepat ketika Sirens mendadak kabur dari pacarnya, Draco, seorang penipu ulung kalangan elit.

Novel roman dewasa ini menggunakan alur maju mundur. Alur tersebut tidak hanya terpecah menurut bab, tetapi terkadang hadir di tengah-tengah dialog. Ketika Reya melamun misalnya, Ruwi menyusupkan cerita masa lalunya.

Sepanjang novel, Ruwi memanjakan saya dengan seting setiap lokasi, baik di dalam kapal pesiar, maupun kota Marseille, Genoa, hingga Venesia. Belum lagi penjelasan wisata setempat. Sebut saja benteng Chateau d’If, Festival De Marseille, desa Riomaggiore, dll. Apalagi mengenai kuliner, seperti huitres, foccacio, atau lasagna, membuat perut saya sontak keroncongan. Walaupun lokasi cerita berada di kawasan Eropa, tetapi tokohnya, minimal, memiliki darah Indonesia. Dalih tersebut memungkinkan para tokoh bercas-cis-cus dengan bahasa Indonesia. Hanya sesekali memamerkan bahasa Spanyol, Perancis, dan Itali. Memang benar, sejauh apapun seseorang merantau, pasti ada kedekatan batin ketika bertemu dengan orang asing yang masih satu kebangsaan.

Saya menikmati membaca novel dengan tambahan ilustrasi khas Eropa latin. Secara tidak langsung menyisipi budaya lokal. Contohnya pakaian batik Reya, atau patung Loro Blonyo, dll. Awalnya terkesan aneh, adanya garis Indonesia di atas kapal pesiar milik warga Timur Tengah, tetapi Ruwi mampu menjelaskan di bagian akhir. Selain itu, agak janggal ketika Reya tidak cepat mengenal Gustave. Menurut pribadi saya, rasanya belum ada teknik sempurna dalam penyamaran. Tetapi, anggap saja bak film Mission Imposible yang mudah menyulap wajah seseorang. Yah, ini hanya segelintir bagian dari novel. Nyatanya saya menikmati kisah cinta di atas kapal pesiar yang menunjukkan titik akhir jalan mistis bernama Para Kekasih.

Advertisements

4 responses

  1. wow.. covernya saya suka, simpel minimalis tapi eksotis.. di gramedia adakah?

    Like

  2. aku belum baca…. 😀

    Like

  3. ayo baca mbak, pumpung liburan 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: