Dua Wajah Mesir

Judul Buku: Mesir Suatu Waktu
Penulis: Dian Nafi dan Rabiah Adawiyah
Penerbit: PT. Grasindo
Tebal: VIII 126 halaman
ISBN: 9786022511380

mesir

Memoar ini mengupas Mesir dari dua sisi. Kumpulan catatan perjalanan salah satu penulis, Rabiah, selama kuliah di fakultas Syari’ah Islamiyah Universitas Al-Azhar Cairo. Bersama sang kakak, Dian Nafi, Rabiah menceritakan kembali pengalamannya selama merantau di Mesir.

Entah harus merasa beruntung atau buntung karena Rabiah menginjakkan kaki ketika gejolak Mesir bertabuh. Demonstrasi menjadi pemandangan setiap hari. Suara tembakan juga kerap kali mengiringi langkah.

“Sudah beberapa hari ini, sejak demo yaum al-ghodob, tiap malam kami mendengarkan tank-tank tentara berjalan pelan melewati jalan besar dekat imarah kami menuju Hay Asyir (hal. 102).”

Suasana kian memanas ketika tiada akses informasi, persediakan makanan dan minuman yang menipis, hingga akhirnya jalur evakuasi warga Indonesia pun dibuka. Namun, Rabiah lebih memilih menetap dahulu di wilayah konflik, dan memberikan ‘jatah’nya kepada kawan yang sangat panik. Hhhmmm saya akui itu bukan keputusan yang umum.

Di bab lain, penulis juga menggelontorkan eksotisme wisata Mesir. Melalui buku ini, saya jadi tahu kalau di Cairo ada komunitas Kupretist du Caire, adalah komunitas yang terbuka untuk umum bagi pendatang yang ingin menjelajah sejarah Cairo. Komunitas yang mengajak Rabiah menginjakkan kaki di Masjid Sayyidah Aisyah, masjid kembar yaitu masjid Sultan Hasan dan Rifa’I, sampai Amir Thaz Palace.

Pengalaman paling unik Rabiah adalah menunaikan haji yang berangkat dari Mesir. Untungnya, tahun tersebut adalah batas akhir bagi jamaah haji yang datang bukan dari negaranya sendiri. Dalih Rabiah masuk akal, karena jauh lebih murah.

Di akhir buku, penulis menutup cerita dengan membeberkan tip perjalanan ke Mesir. Contohnya, bulan apa yang tepat untuk mengunjungi Mesir, apalagi udara setempat terkadang kurang sesuai dengan kulit orang Indonesia. Selain itu, ada pula tip memilih akomodasi yang terpercaya, sampai cara menyesuaikan makanan setempat yang identik dengan roti dan bumbu tersendiri.

Buku yang tidak hanya memaparkan cerita jalan-jalan, tetapi pengalaman Rabiah mengenai kehidupan di Mesir dengan dua wajahnya. Penulis pun seolah-olah mengajak saya berkelana di negeri piramida.

Advertisements

4 responses

  1. Baru tau aku kalo ini buku duet, kukira buku mbak Dian Nafi sendiri, hehee

    Like

  2. Terima kasih ya :))

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: