Naksir Pak Reporter

Appetizer

“Wuri, kamu liputan dia ya,” titah Bos Produser sembari menunjukkan layar komputer kantor.

Hedeeeh! Sontak aku ingin menelan Bos saja, walaupun bakal tersendat di tenggorokan sih, ups. Padahal aku ingin kipas-kipas sambil eksis nyetatus, sesekali makan gaji buta boleh lah. Tetapi suara cetar Bos meruntuhkan impian karyawan teladan ini #PedeNdakTahuDiri.

Aku melihat jari telunjuk Bos mengacung pada berita online. Terlihat pula foto seorang lelaki (yang kayaknya) tulen tengah tersenyum lebar. Itulah perjumpaan pertamaku dengan foto Mas, hihi. Waktu itu, tidak ada kejutan di dada. Rasanya flat. Habisnya, di foto itu si Mas enggak kibas-kibas dolar yang bisa bikin mataku kedip-kedip lenjeh sih.

“Dia pemenang lomba blog,” imbuh Bos.
*talk to my hand, Bos.

Di masa itu, blog belum berkembang seramai sekarang. Ibarat kuburan, dahulu sepi, sekarang jadi tempat pacaran, eh. Begitu pula dunia blogging, ketika itu hanya segelintir blogger dan kompetisi. Jadilah, begitu Mas (lagi beruntung) dapat juara 1, lantas gaungnya sampai ke kolong ibukota, eh. Kebetulan Bos sudah ketok palu kalau tema episode berikutnya adalah blog.

repgambar dicomot dari sini.

Berawal dari tugas pekerjaan itulah, aku (terpaksa) berkenalan dengan Mas. Kebetulan aku orangnya baik, tidak sombong, dan sering bersifat parasit (a.k.a tukang palak teman), biasanya tetap menjaga komunikasi dengan narasumber, walaupun urusan pekerjaan sudah kelar. Padahal aku berada di Jakarta, sementara Mas sudah menetap di Semarang, beruntung ada internet yang membuat kami masih bisa tegur sapa di dunia maya. “Makasih, internet.” *kecup-kecup BTS #Sinting.

Main Menu.

Akhirnya i do with Mas, deh. Setelah menimbang berat badannya yang masih tergolong proporsional, dan mengingat kalau ortu sudah kasih lampu ijo bonus duit resepsi, eh. Aku pun memutuskan hubungan sebagai reporter. Yap. Aku melepaskan mimpiku ketika kecil sebagai jurnalis. Lima tahun sudah aku bergelut mengejar narasumber, yang salah satunya berhasil memikat hatiku *taelah. Inilah aku, si mantan reporter yang sudah bertransformasi menjadi nyonya reporter.

Kok bisa?
Karena pekerjaan Mas juga reporter, hehe.

Beberapa kawan menilaiku sudah gila, mengalami cinta buta, dan kena pelet Mas *piss. Tetapi keputusanku itu sudah melalui banyak sholat (kalo ini cuma pencitraan), baca buku-buku soal pernikahan (yang ini juga pencitraan), dan berkonsultasi kepada kawan yang lagi dateline (ini baru tulisan jujur). Aku pun bersikap pasrah kepada takdir, hehe. Eit, sebenarnya ada 5 hal yang membuatku yakin.

Satu: pernah bernasib sama sebagai reporter.
Beberapa pasangan memang berasal dari satu bidang, seperti aku dan Mas. Sebelum merit, kami sama-sama bekerja sebagai reporter. Istilah narasumber, dateline, atau editing sudah menjadi makanan sehari-hari. Masing-masing juga sudah paham soal liputan sampai malam, atau mendapatkan voucher menginap di kantor karena proses editing yang tidak kelar-kelar. Setidaknya, ngomong pekerjaan jadi nyambung, tiada protes kalau bekerja di luar office hour, sampai dapat tugas ke luar kota, slurrrp. Asal kalau ketemu jangan berani menyinggung soal dateline dan bos saja *langsung asah golok berlian.

Dua: buangnya sampah pada tempatlah
Aku sempat terkesiap ketika tanpa sengaja melihat Mas menyimpan sampah bungkus kue di tasnya, karena tidak menemukan tong sampah. Walaupun perbuatannya sederhana, tetapi menurutku jarang menemukan lelaki bersikap seperti itu *lirik teman-teman kantor yang hobi buanglah sampah pada tempatnya, kalau enggak ada baru bebas membuang, duh! Layaknya juri, aku memberi golden ticket pada Mas. “Lanjut ke tahap selanjutnya ya.”

Tiga: kagak berani macam-macam.
Aku paling benci orang yang nyuri kesempatan, sok pamer kalau jarinya bak kelar menikur yang mulus, sampai berani nyolek-nyolek, ciaaat! *jurus seribu kaki alias lariii. Kecuali salaman, atau bersifat menolong, ya no problemo. Tetapi Mas berbeda. Kagak pernah towel-towel aku. Atau jangan-jangan pas itu lagi kagak demen sama aku ya? hiks. Bahkan sebelum merit pun, aku justru yang agresif colak-colek dia, “Eee… Mas, Mas, jangan lupa bayarin, tagihan makanannya tuh.”

Empat: suka wisata religi
Kalau mungkin cewek pada umumnya, lebih menyukai lelaki yang mengajaknya dinner, nonton bareng, hingga beliin tas KW, eh. Tetapi bagiku, justru aku suka tamasya ke masjid. Terbukti, waktu dulu masih gadis dan merantau di Jakarta, aku usahakan mencicipi shalat tarawih di berbagai masjid. Balik lagi soal Mas, dia pernah mengajakku ke salah satu masjid bersejarah. Sebenarnya sih, selain nyicip sholat di sana, juga sekalian nebeng narsis futu-futu. Ini dia salah satu hasil jepretan Mas:

IMG_4692

Hayooo… tebak nama masjid-nya?

Lima: masuk ke dunia baru
Dulu sih, aku memang pengin dapat suami dari luar aktifitas sehari-hariku. Jadi, bukan kawan sekantor, atau teman satu komunitas. Dalihnya hanya satu, biar masuk ke dunia baru. Dan, horeee… walaupun Mas juga reporter, tetapi kan beda kantor (bahkan letak kantornya berbeda kota pulak), terus enggak satu komunitas. Setelah merit, jadi mau tidak mau, aku sesekali terjun ke aktifitas komunitas yang Mas geluti. Bertemu orang baru lagi, dan yang penting hatiku tidak berubah *co cwit.

Dessert

Yap, alasan-alasan di atas memang bukan yang utama. Pastinya aku mencari calon suami yang laki-laki tulen, sabar, ibadahnya terjaga, keluaga yang sarat nuansa Islam, berduit, punya kendaraan pribadi, royal, penurut, nah loh? Dan jawabannya adalah… Mas. Anggap saja, kelima dalih di atas merupakan bonus yang mewarnai perjalanan hingga yakin itu menancap di hati.

Memang ya, tiada perencana ulung selain Allah SWT. Walapun aku dan Mas berawal dari pekerjaan, terpisah jarak JKT-SMG, akhirnya dekat melalui di dunia maya. Siapa mengira mantan narasumber yang juga Mas Reporter cakep itu, saat ini adalah suamiku *pipi memerah kek Puteri Salju #Ngarep.

“Jodoh itu dapat berasal dari mana saja dan siapa saja. Bisa jadi, dia yang duduk di sampingmu kini, kelak menjadi pasangan abadimu.”

Mitsaqan Ghaliza

tulisan ini disertakan dalam Giveaway Novel Perjanjian yang Kuat

Advertisements

10 responses

  1. ceritanya agak mirip dgn saya sih mbak. Karena blog. Tapi bedanya, mbak wuri jatuh cinta antara sesama reporter. klo saya antara mahasiswi semester tua dan dosen muda. mba wuri SMG -JKT saya INA-NL.

    Like

  2. Aaiihh co cweett bgt si Mbak, dr maya jd nyata ya hehe.. Semoga selalu bahagia sama si mas Mbak 🙂

    Like

  3. oooohhhh so swiitttt….. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawahdah, warahmah, aamiin.

    Like

  4. ternyata berawal dari dumay jodohnya. Semoga langgeng selalu, ya. Aamiin

    Like

  5. Cie… cie… Rahma hihihi

    Like

  6. Hohoho pantes sering menang lomba blog, belajar dari kakang prabu 😀 Makasih dah ikutan ya mbaa

    Like

  7. Ups, ketahuan 🙂
    Tapi aku udah jarang lomba blog kok, Mbak. Lagi sibuk… itu…bobok siang.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: