Cinta di Rumah Betang

Judul: Betang (Cinta yang Tumbuh dalam Diam)
Penulis: Shabrina WS
Penerbit: Quanta, Imprint of PT Elex Media Komputindo
Tebal: 175 halaman
ISBN: 9786020223896

Betang-Cinta yang Tumbuh Dalam Diam

Judul novelnya langsung memaku perhatian. Betang, atau rumah berbentuk panjang sebagai tempat berhuni khas suku Dayak, Kalimantan Tengah. Rumah adat yang memercikan kisah cinta antara Danum dan Dehen. Danum, perempuan piatu yang semenjak kecil hidup di betang bersama kakek nenek. Danum baru mengetahui kalau memiliki kakak laki-lakinya yang bernama Arba ketika menginjak remaja. Tepatnya karena Ayah kandung mereka, yang juga belum pernah ia temui, terjerat kasus perambah kayu hutan. Sementara Dehen, laki-laki itu memiliki garis takdir yang lebih cemerlang.

Danum dan Dehen sama-sama menyukai dayung semenjak kecil. Rumah betang yang dekat sungai, membuat mereka acap kali menatap masyarakat tengah mendayung. Hingga terbersit kelak menjadi atlet dayung yang mengharumkan nama bangsa.

Sayangnya, Dehen lebih dahulu pindah ke Palangkaraya lalu masuk pelatnas. Terlebih di pusat latihan atlet, Dehen memiliki kawan perempuan baru, Sallie. Sayangnya, Danum baru memahami rasa di hati ketika bertemu Dehen kembali dan berkenalan dengan Sallie. Di saat itu, pikiran Danum terpecah oleh kakek yang meninggal, betang dengan sejuta kenangan bersama Arba, Dehen yang akhirnya dapat ia tatap secara langsung, Sallie yang bersikap baik kepadanya,  hingga fokus kepada perlombaan.

Membaca novel ini sekaligus menyelami dunia olah raga dayung. Tahapan Danum melewati berbagai tes hingga menjadi atlet pelatda, kisahnya mewakili informasi bagaimana kehidupan atlet muda itu. Beberapa istilah, seperti 200 meter, 500 meter, K1, K2, dll, juga kerap hadir di dalam novel. Secara implisit, bagaikan membaca sekaligus memetik pengetahuan umum seputar dayung.

Novel bergenre romance islami ini sarat akan nilai-nilai agama. Pantas saja ada stempel ‘novel islami’ di cover-nya. Walaupun berbalut kisah cinta, tetapi tidak keluar dari norma yang berlaku. Lagi-lagi justru secara halus mengarahkan pembaca bagaimana memberi respon kepada perasaan. Jatuh cinta memang manusiawi, apalagi ketika Danum dan Dehen sudah menginjak usia dewasa muda. Tetapi bagaimana mengatasi terhadap getara di dada itu yang menjadi acuan novel ini. Danum memiliki cara tersendiri dalam mendefinisikan rasa, lalu bagaimana dia bersikap ketika menghadapi Dehen tanpa melewati batas perintah agama. Karena,

Tidak ada yang salah dengan cinta, selama kamu tahu bagaimana menempatkannya (hal.74)

Kehidupan di rumah betang menjadi pembuka novel. Pembaca langsung terkena hipnotis riuhnya keluarga di betang. Walaupun, perlahan-lahan sudah rumah adat itu mulai kehilangan peminat. Hiruk pikuk di lorong rumah betang, kuliner khas setempat, sampai desain yang unik tergambar jelas melalui kata-kata. Mengajak pembaca membayangkan arsitektur rumah adat khas suku Dayat itu secara gamblang. Sekaligus meletupkan hasrat pembaca ingin berkunjung ke betang pula.

Gaya bahasa yang ringan tetapi kaya diksi itu mewarnai isi novel. Sesekali menyelipkan bahasa lokal. Sebut saja kalimat, “Ikau tulak jewu?” yang artinya “Kamu berangkat besok?” Banyak juga menggunakan kata ‘uma, ini, dan kai’. Masing-masing memiliki arti ‘ibu, nenek, dan kakek’. Penggunakan bahasa lokal kian membangun nuansa kehidupan di rumah betang. Sekaligus pembaca memiliki informasi tambahan mengenai bahasa daerah.

Nama Shabrina WS, sebagai penulis, cukup menggaung di kalangan pecinta buku. Beberapa kali menjadi pemenang lomba novel kian menunjukkan eksistensinya. Rasanya, tidak perlu ragu dengan setiap hasil tulisannya.

Sebagai novel romance, buku ini layak menjadi rekomendasi bagi yang ingin memahami makna cinta sekaligus mengejar cita-cita. Tanpa melepaskan pendidikan agama sebagai acuan hidup. Tepat bagi remaja, young adult, hingga dewasa. Seperti salah satu kutipan di novel:

Ada aturan yang seakan mengekang, tapi percayalah, dengan peraturan itu, hidup manusia menjadi lebih mudah (hal. 84).

Resensi ini diikutsertakan dalam lomba resensi buku BAW dan QuantaBooks

Advertisements

10 responses

  1. Suka novel ini meskipun cenderung datar tp ceritanya oke, byk kata2 indah terselip di sana sini. Apik resensi nya 😉

    Like

  2. Jadi penasaran ingin baca, ulasan menarik 🙂

    Like

  3. Aku suka quotes dalam buku ini mbak wuri

    Like

  4. Ho’oh mbak 🙂 makasih

    Like

  5. Hehe kalo sy penasaran pengin injek ruma betang 🙂

    Like

  6. wah, saya sebagai orang asli kalimantan harus beli nih…

    Like

  7. Mbaaak, makasih banyak sudah baca dan bikin reviewnya. 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: