Cinta Bersemi di Medan Perang

Judul: Kei (Kutemukan Cinta di Tengah Perang)
Penulis: Erni Aladjai
Penerbit: GagasMedia
Terbit: 2013
Tebal buku: vi + 254 hlm

KEI

Berada di wilayah konflik terkadang mampu meletupkan cinta dan mempererat persahabatan. Seperti cerita dari Kepulauan Kei. Naskah yang pernah menjadi pemenang unggulan Dewan Kesenian Jakarta 2012.

Sebagian besar menggunakan Kepulauan Kei sebagai lokasi novel, yang berbatasan dengan Laut Arafura dan Laut Banda. Namira Evav, gadis muslim dari Pulau Elaar, keturunan Makian Timur (hal.12). Di tengah perjalanan pulang, Namira seketika bertemu segerombolan pemukim yang tengah mengacungkan parang. Kondisi panik mengarahkan kaki Namira mengikuti arah warga berlari. Hingga ikut mengungsi ke desa Ohoinol. Belum lagi, di tengah malam, ketika belum mendapatkan kabar orang tua, Namira mengungsi lagi. Dia naik perahu menuju Pulau Langgur.

Selama di pengungsian, Namira membantu memasak, sesekali menjadi pendongeng anak-anak. Sampai kakinya terkena pecahan kaca botol lalu berteriak kesakitan yang menyita perhatian Sala (hal.68-69).Sala, laki-laki protestan dari Desa Watran, berusia 19 tahun yang melihat ibunya sebagai korban pembantaian.

Di tengah suasana mencekam, Namira dan Sala menemukan kedamaian satu sama lain. Ketika Sala memilih menjadi supir truk sukarela menuju Ngilngof selama tiga hari, kian mengikat rasa cinta. Puncaknya, perempuan dan anak-anak, termasuk Namira, harus mengungsi. Mereka pun terpisah.

Di pulau Evu, Namira bertemu sahabat SD, Meri Kaplale seorang Katolik. Namira seolah menemukan kerabat. Namun, keceriaan mereka terhenti tepat para perusuh mendatangi Pulau Evu. Seseorang menarik tangan Namira hingga naik kapal menuju Makasar (hal.148). Sementara, Sala yang mendapatkan kabar Namira hilang, sontak limbung. Dia mengikuti kawannya Edo merantau di Jakarta. Sayangnya, Sala terjebak dalam lingkaran hitam pembunuh bayaran.

Novel roman yang tidak hanya berbalut suasana mencekam, tetapi penuh pengetahuan budaya. Mulai tarian sosoy swar man-vuun, dongeng Lateo dan Puteri Lumba-Lumba, Te Idor, upacara tutup sasi laut hingga kuliner khas enbal. Setiap warisan leluhur mengandung makna demi kelangsungan hidup masyarakat Kei menjadi lebih baik.

Novel dengan kaya diksi dan sesekali menggelitik. Dialognya alami dengan karakter dan konflik yang kompleks. Sekaligus seakan mengajak masyarakat bercermin agar tidak mudah terprovokasi. Seperti kerusuhan Kei di tahun 1999 yang tidak berlarut-larut. Perdamaian berdentang usai hukum adat, seperti Larwul Ngabal, ditegakkan

Mereka masih mengukuhkan petuah nenek moyang sebagai pengingat rasa kebersamaan. Ain ni ain manut ain mehe ni tilur, wuut ain mehe ni ngifun (Kita adalah telur-telur yang berasal dari ikan yang sama dan seekor burung yang sama pula, hal.23).

Walaupun berita perdamaian di Kei sudah menyebar, tetap Namira dan Sala membutuhkan waktu untuk kembali menginjakkan kaki, ke wilayah penuh kenangan manis dan pahit. Mereka hanya mengingat sebuah pesan. β€œCinta selalu menemukan jalannya sendiri, pela*” (hal. 155)

*pela = saudara

Advertisements

2 responses

  1. Hidayah Sulistiyowati

    Penasaraaan…pengen baca ;))
    Hayo kudu tanggung jawab nih qiqiqi

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: